fbpx
Home Good Story Pesantren Week End; solusi pembelajaran di saat pandemi
Pesantren Week End; solusi pembelajaran di saat pandemi

Pesantren Week End; solusi pembelajaran di saat pandemi

0
0

Pesantren Week End; solusi pembelajaran di saat pandemi
Miss. Umami

Senin, 1 Maret 2021 saya terhenyak kaget tersebab link berita yang dishare oleh Pangersa Abah Jagat. Berita yang didapat dari chanel youtube Official iNesw dan diunggah pada tanggal yang sama tersebut memberitakan tentang seorang anak usia 12 tahun, kelas 1 SMP di daerah Subang Jawa Barat yang meninggal dengan diagnosa gangguan syaraf yang diduga karena kecanduan game on line pada telp genggam atau HP. Menurut keterangan kerabat pada berita yang sama, korban suka bermain game bahkan sampai pagi hari.

 

Dalam kondisi pandemi yang sedang berlangsung saat ini, keadaan seperti korban diatas sangat mungkin terjadi kepada siapapun. Mengingat penggunaan HP dan gadget sejenis lainnya menjadi media utama pembelajaran dengan sistem daring. Tidak akan menjadi masalah  jika HP dan atau gadget hanya digunakan untuk pembelajaran sebagai pengganti kegiatan sekolah, tapi faktanya, penggunaan HP  untuk kegiatan non pembelajaran hampir menyita waktu lebih banyak, apakah untuk bersosial media maupun, seraching informasi, menonton film, mendengar lagu hingga bermain game.

 

Saya percaya betul bahwa orang tua pasti sudah mengingatkan anak-anak untuk mengatur dan membatasi penggunaan HP, tapi sebagaimana usia remaja SMP dan SMA yang memiliki kecenderungan “kekeuh” dengan apa yang menjadi keinginannya, tak jarang nasehat dan peringatan orang tua didengar dengan sambil lalu begitu saja. Meskipun hal ini tidak berlaku untuk semua orang tua, utamanya para orang tua yang menerapkan jam penggunaan gadget maupun aturan sejenis lainnya. Tapi dari sepuluh orang tua yang saya tanya dalam berbagai kesempatan yang berbeda, hanya tiga saja yang kemudian memiliki aturan dan kesepakatan antara anak dan orang tua.

 

Tugas utama mendidik anak memang berada pada pundak orang tua, dan saya fikir semua pihak bersepakat dengan ini. Namun dengan diformalkannya lembaga pendidikan, tugas ini seakan berpindah dari tugas  keluarga dan orang tua menjadi tugas guru dan sekolah. Apalagi jika makna pendidikan kemudian terbatasi dengan kewajiban menuntaskan target mata pelajaran. Akhirnya sangat tidak heran ketika pandemi tiba dan akhirnya pendidikan dikembalikan kepada orang tua, banyak keluarga yang kemudian tidak siap secara sistem, sehingga persiapan yang ditekankan sebatas pemenuhan fasilitas fisik pembelajaran, seperti penyediaan HP dan laptop sebagai sumber belajar.

 

Kondisi pembelajaran on line seperti saat ini, mensyaratkan motivasi yang kuat dari anak, serta target dan agenda yang selain ketat juga dituntut variatif dari orang tua. Karena jika tidak, ada beberapa celah pertumbuhan dan perkembangan anak yang tidak seimbang, perkembangan sosial khususnya. Pembatasan aktivitas sosial mau tidak mau mengurangi kesempatan anak-anak untuk berinteraksi dengan teman sebaya maupun orang dewasa lainnya diluar unsur keluarga. Padahal sama-sama diketahui bahwa manusia adalah homo socius yang berarti makhluk sosial dan akan selalu membutuhkan orang lain dalam hidupnya.

 

Kita boleh khawatir dengan pandemi, tapi kita tidak boleh lengah dan cuek begitu saja tentang perkembangan anak-anak kita. Sebagai orang tua sudah sewajarnya kita bersama-sama dengan anak dan seluruh anggota keluarga melalui masa-masa sulit pandemi dengan tetap melakukan kegiatan yang berarti dan menunjang pertumbuhan dan perkembangan baik dari segi fisik maupun emosi. Karena pandemi ini adalah hal baru, tidak hanya untuk anak-anak namun juga orang tua. Semua orang dituntut untuk bisa beradaptasi dengan banyak hal baru menggunakan pendekatan dan cara pandang yang juga baru.

 

Ditengah pandemi yang kita tidak dapat prediksi kapan akan selesai, saya bersyukur sekali dengan keberadaan pesantren, baik sebagai lembaga pendidikan maupun entitas kemasyarakatan. Rasanya tidak berlebihan jika kita bilang bahwa Pesantren adalah tempat paling aman untuk anak-anak bisa melalui masa pandemi dengan tanpa gejolak yang berarti, sekaligus menjadi tempat paling menenangkan bagi orang tua, meskipun tentu saja syarat dan ketentuan berlaku menyesuaikan dengan sistuasi dan kondisinya.

 

Pesantren menjadi tempat paling aman, karena selain alur interkasi dengan pihak luar yang terbatasi, di dalam pesantren protokol teologis wajib untuk diamalkan, dijaga dan dilestarikan. Dan apalagi yang lebih menenangkan selain kepasarahan total kepada sang penggenggam alam. Belum lagi kebiasaan menjaga wudhu dan juga berwudhu minimal lima kali dalam sehari, rasanya setara dengan kewajiban mencuci tangan dan menggunakan hand sanitizer sebagai usaha membatasi pergerakan kuman di daerah sekitar tangan.

 

Selain menjadi tempat paling aman, pesantren juga merupakan tempat paling menenangkan untuk orang tua, bukan hanya karena kebiasaan amaliyah yang dijaga, tapi pengaturan waktu dalam menggunakan segala sesuatu, salah satunya adalah HP dan gadget. Kekhawatiran penggunaan gadget yang berlebihan otomatis terbantahkan dengan jadwal penggunaan HP yang hanya satu kali dalam satu minggu. Dan jika dibutuhkan penggunaannya lebih dari jadwal yang ada, akan ada syarat dan ketentuan yang berlaku, diantaranya pembatasan berapa jam menggunakan dan jam berapa harus dikembalikan.

 

Lalu bagaimana jika anak-anak kita sudah terlanjur berskeolah di luar pesantren, ataupun tidak mau berpesantren. Jika anak-anak masih balita maupun SD kelas bawah kendali program dan aktivitas masih dalam ranah orang tua, berbeda jika anak-anak sudah masuk usia SD kelas atas (4-6), SMP, SMA atau bahkan universitas, pada usia remaja dan dewasa awal ini, anak sangat mungkin untuk diajak ngobrol bersama dan menentukan aktivitas apa yang mereka minati, tentu saja orang tua memiliki peran mengarahkan dan memberikan pandangan lain, bahkan memutuskan jika ternyata ide yang muncul dari anak-anak lebih banyak madharatnya dibanding manfaatnya.

 

Salah satu alternatif kegiatan yang bisa menjadi pilihan adalah mengikuti pesantren week end. Pesantren week end adalah program sejenis pesantren kilat hanya saja dilaksanakan pada setiap week end. Jika biasanya pesantren kilat dilaksanakan saat ramadhan saja, maka pesantren week end sebaliknya, bisa dilakukan diluar bulan ramadhan. Pesantren Week End telah diinisiasi oleh Pesantren Jagat `Arsy dan telah dimulai pada awal Februari 2021, dengan dua pilihan target yaitu tahsin tahfidz  dan kitab kuning.  Selain target yang telah ditentukan tersebut kemandirian dan ketertiban menjalankan ibadah amaliyah juga tetap terjaga.

 

Karena anak adalah investasi dunia dan akhirat, sewajarnya orang tua menyiapkan program terbaik yang mensuport pertumbuhan dan perkembangan secara maksimal dan juga seimbang. Alloh berkahi kita semuanya, segalanya, selamanya. Amiin.

 

Jagat `Arsy, 2 Maret 2021

 

 

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: