fbpx
Home Good Story Orang tua rasa santri
Orang tua rasa santri

Orang tua rasa santri

0
0

Ini cerita lama sebenarnya, tapi rasanya masih sangat relevan sampai saat ini, terutama untuk menemani para ayah bunda yang baru merasakan saat-saat rumah agak sepi, karena anak-anak sudah mulai masuk pesantren. Terlebih lagi untuk yang putra-putrinya baru tahun pertama masuk pesantren.

Ternyata yang perlu adaptasi tidak hanya anak-nya tapi juga orang tuanya. Kalau anak mungkin bisa dikondisikan oleh guru-gurunya di pesantren, tapi kalau orang tua siapa yang berani coba J

Cerita terinspirasi dari obrolan saya dan salah satu parent di Pesantren Jagat `Arsi. Suatu hari, saya di chatlah oleh beliau “miss ada waktu, saya mau ngobrol”. Kalau udah dapet chat begini, saya tuh langusng deg-de-an. Rasa deg-deg-annya lebih dari saat sidang tesis maupun skripsi, mules-mules gimana gitu J.

Tapi saya tetap tampil tenang sambil merapal dzikir andalan, karena menjaga ketenangan para orang tua adalah bagian dari tugas sekaligus pembelajaran buat saya. Caranya sederhana mendengarkan, mendengarkan dan mendengarkan.

Layaknya orang tua, obrolan kami pada kesempatan itu berkisar tentang kegiatan santri, tidak hanya yang senang-senang, tapi yang tidak senang pun tersampaikan. Dan karena cara beliau menyampaikan juga menyenangkan, akhirnya walaupun ada tetes air mata, kami tetap senyum, bahagia, senang dan lega.

“Saya heran lho miss, sekarang, saya di rumah udah kayak santri, bedanya kalau saya salah saya ngga dihukum aja” satu obrolan ini yang masih saya ingat sampai saat ini.

Awalnya saya agak mengernyit “maksudnya gimana mam?” tanya saya agak sungkan saat itu, dan jawaban beliaulah yang membuat saya malu dan bersyukur  sekaligus dalam waktu yang sama.

Sebagaimana orang tua yang lainnya, beliau mempercayakan putra tercintanya untuk bisa lebih mandiri dan bertanggung jawab. “Urusan tahsin, tahfidz, akademik dan lainnya itu bukan target utama”, tutur beliau. “Tapi masa iya ngga dapet sih point-point itu” beliau melanjutkan. Tentang hal ini saya mengiyakan, asalkan ananda mengikuti kegiatan sesuai dengan waktu yang ditentukan insya Alloh hal-hal tersebut akan didapatkan.

Sependek pengalaman saya membersamai santri, yang membedakan satu santri dengan lainnya adalah effort atau usaha yang dikeluarkan. Semakin maksimal usaha yang dilakukan in sya Alloh akan semakin maksimal pula hasil yang didapatkan. Tapi yang kadang sebagian kita para orang tua lupa adalah kekuatan dan kemauan untuk mengeluarkan effort lebih terbentuk sedari kecil.

Tapi hal ini belum menjadi surprises buat saya. Yang menjadi surprise adalah pengakuan beliau bahwa semenjak ananda di Jagat `Arsy, beliau menjadi lebih tertib  dalam hal ibadah, bahkan belajar dan melakukan amaliyah yang dilakukan oleh sang putra selama di Jagat `Arsy, dzikir yang lama, sholat sunnah yang penuh dan tentu saja senantiasa menghadirkan Alloh dalam setiap aktivitas.

Saya menjadi penasaran, bukan sebagai seorang guru, tetapi sebagai pribadi yang juga sering malas dan masih banyak amaliyah yang tidak maksimal dilaksanakan.

“Saya tuh malu sama anak saya dan juga santri-santri di sini miss, rasanya ngga sopan aja, saat guru asrama jam tiga pagi sudah membangunkan anak-anak kami, masa kami orang tuanya hanya melihat lewat photo yang di share di instgram asrama, terus tarik selimut lagi. Hati tuh rasanya suka ngga tega, masa anak mandi tobat sebelum jam empat dan kami yang dirumah masih enak-enakan bobo dengan nyenyaknya. Belum lagi anak-anak yang sholat lima waktu berjamaah terus, kan ngga adil kalau saya nunda-nunda waktu sholat.  Apalagi kalau ingat, dia mesti nyapu, ngepel, ngosok kamar mandi, nyuci piring, mau makan antri, mau minum antri, mau laundry antri. Suka mak nyes di hati miss, kalau inget gitu tuh, langsung sedih pengen nangis saya”. Terang beliau dengan mengusap air mata.

“Tapi ikhlaskan mam?” tanya saya memastikan

“In sya Alloh miss, pasti saya ikhlas, saya tidak tahu masa depan mereka seperti apa, mungkin saya sudah punya rencana, tapikan kita punya Alloh yang rencanaNYa lebih indah dan seringkali berbeda dengan rencana kita. Saya justru bersyukur, dengan masukin anak ke Jagat `Arsy, saya jadi ikutan lebih rajin. Walaupun awalnya karena anak, tapi akhirnya menjadi kebutuhan saya juga”

Obrolan kami berlanjut dengan lebih seru lagi, banyak sekali insight baru yang saya dapatkan saat mengobrol dengan orang tua. Bukan hanya terkait urusan Jagat tapi juga terkait  urusan yang lainnya.

Satu yang saya setuju dari beliau adalah, kita sebagai orang tua dan orang dewasa,  terkadang perlu belajar dari apa-apa yang dilakukan oleh anak-anak kita. Dan pasti menjadi sebuah kebanggaan ketika anak-anak kita, santri-santri kita menjadi lebih baik dari kita.

Hal lain yang membuat saya respek dengan beliau adalah kepercayaan dan khusnudzon, kacamata ini  yang selalu beliau pakai ketika menanggapi setiap dinamika yang terjadi. Dua hal ini menjadi menjadi fondasi sekaligus pagar dalam membersamai proses berpesantren santri, sehingga hubungan beliau dengan kami sangat harmonis, tidak hanya lahir tapi juga terasa sampai batin.

Alloh mudahkan ikhtiar kita membersamai mereka, tumbuh dan berkembang menjadi generasi terbaik untuk agama, negara dan peradaban dunia, yang sholeh, sehat, sukses dan kaya raya. Amiiin.

 

Jagat `Arsy, 7 Februari 2021

-Ch. Umami-

 

 

 

 

tags:

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: