fbpx
Home Good Story Gamis n Koko
Gamis n Koko

Gamis n Koko

0
0

Gamis n Koko

Miss. Umami

 

Bismillahirrahmanirrahim,

Sependek saya berperan mendampingi santri di Pesantren Jagat `Asry, selain “apa yang membuat saya betah dan semakin jatuh cinta dengan Jagat `Arsy”, “bagaimana tips agar anak mau berpesantren” adalah pertanyaan lain yang sama seringnya saya terima. Dan pertanyaan ini pula yang  sering kali juga saya tanyakan kepada wali santri, utamanya santri  yang kakak adeknya berpesantren di Jagat `Arsy, terlebih mereka yang mengambil masa belajar enam tahun.

 

Salah satu jawaban parent yang membuat saya kaget adalah, bahwa anak-anak sudah faham kalau setelah lulus SD harus pesantren, karena adanya kesepakatan yang telah disetujui oleh keduanya. Usut punya usut Sang Bunda sudah membuat kesepakatan, mulai kelas 4 SD, jika sholat subuh mesti harus dibangunkan berarti SMP harus ke Pesantren. Dan karena Sang Bunda komitmen dengan kesepakatan yang telah dibuat, maka Mas dan Adek begitu lulus SD dengan serta merta bilang “Aku harus ke Pesantren ya bund”.

 

Ternyata prosesnya memang tidak sebentar, apalagi jika pesantren adalah hal baru dalam keluarga tersebut. Anak pertama dengan orang tua yang tidak memiliki pengalaman pesantren sebelumnya, dari keluarga yang memang tidak biasa berpesantren -nyantri-, maka membutuhkan waktu yang relatif lebih lama jika diibandingkan dengan keluarga yang secara turun temurun terbiasa dengan dunia per-santri-an.

 

Untuk menjawab pertanyaan sejenis, saya biasanya hanya mengingatkan tentang “Gamis n Koko”, selain dua hal ini akan sangat sering di temui, bagi saya gamis dan koko memiliki makna lain yang sangat berhubungan dengan persiapan untuk nyantri, baik untuk calon santri atau juga orang tuanya. Karena bagaimanapun orang tua selaku wali santri memiliki peran yang dominan, meskipun secara waktu dan fisik anak tidak lagi 100% bersama orang tua.

 

“Gamis n Koko” ini belum teruji keberhasilannya secara pribadi oleh saya memang, tapi saya mengambil pengalaman dan pelajaran dari apa yang dilakukan oleh orang tua saya dulu, oleh teman-teman saya sekarang dan tentu saja paling banyak saya terinspirasi dari cerita-cerita yang luar biasa dari para santri dan orang tua santri Pesantren Jagat `Arsy, mulai tahun 2003 hingga tahun ini.   “Gamis dan Koko” ini merupakan idiom ala saya untuk memudahkan obrolan terkait hal ini, yang sebenarnya memiliki maksud  mengGali keinginan dan kemauan anak, Mendengarkan dan Mengarahkan dengan intens, meluruskan Niat, menjaga Komitmen dan melakukan pengKondisian.

 

Ga – Gali Maunya Anak

 

Jika anak kita hidup di era sebelum tahun 2000, proses ini tidak terlalu menjadi bahan pertimbangan, karena saat itu budaya interaksi antara orang tua dan anak masih relatif harmonis dan stabil, dimana anak menempatkan kemauan dan harapan orang tua hampir diatas cita-citanya sendiri.

 

Namun beda cerita jika kita hidup di era tahun 2000an ini. Kemajuan tehnologi dan informasi memberikan banyak sekali altrenatif sekaligus contoh terkait interkasi orang tua dan anak yang bisa jadi jauh sekali berbeda dengan era sebelumnya.

 

Banyak contoh anak-anak muda yang telah mandiri secara finansial, keberanian beberapa anak-anak muda mengambil resiko tidak menuruti kemauan orang tua yang muncul pada film, tokoh novel hingga komik, bahkan chanel sosial media, sampai hubungan orang tua dan anak versi budaya barat yang berbeda budaya kita, hampir semuanya dapat diakses dengan mudah oleh anak-anak.

 

Dan hal ini mau tidak mau, suka tidak suka mempengaruhi sedikit banyak perkembangan pemikiran anak-anak kita. Sehingga menggali apa yang menjadi keinginan mereka tentulah hal yang wajib dilakukan karena tidak semua anak berani dan terbiasa mengungkapkan apa yang mereka rasakan, apa yang mereka inginkan.

 

Menggali kemauan dan keinginan anak ini menjadi penting dan orang tua bisa menempatkan dengan tepat apa yang menjadi harapan orang tua, sehingga kemungkinan berbeda pendapat  dengan anak bisa diantisipasi. Fakta membuktikan jika ditanya apakah mau pesantren atau tidak tanpa ada proses pemberian motivasi terlebih dahulu mayoritas anak akan bilang tidak. Karena pesantren di sebagian besar benak anak hanyalah pembatasan ini dan itu dan juga mengurangi kemudahan serta fasilitas yang mereka rasakan sebelumnya.

 

Hubungannya dengan kesiapan berpesantren, orang tua dapat menjadikan apa yang diinginkan anak sebagi referensi pesantren yang akan dipilihnya. Syukur-syukur jika yang diinginkan dapat disediakan oleh pesantren yang dimaksud, pun jika tidak orang tua bisa melakukan diskusi dengan anak tentang apa yang diinginkannya. Apakah bisa dilakukan sebelum berpesantren, sambil berpesantren atau nanti setelah berpesantren.

 

Mis – Mendengarkan dan mengarahkan anak dengan instensif

 

Beberapa orang tua mungkin memiliki pandangan berbeda, tapi bagi saya pribadi campur tangan orang tua -sampai batas usia tertentu- masih sangat dibutuhkan. Jika harapan orang tua sejalan dengan cita-cita anak maka tidak perlu banyak effort untuk mengarahkan anak. Namun beda cerita jika ternyata apa yang menjadi harapan orang tua tidak sejalan apa yang dicita-citakan oleh anaknya, pada tahap ini proses mendengarkan  menjadi sesuatu yang sangat diperlukan.

 

Sebagaimana tugas usia perkembangan, pada fase tertentu anak memiliki kecenderungan untuk mencari jati diri serta membuktikan eksistensinya, sehingga acap kali terjadi perbedaan pendapat dengan orang tua. Bisa jadi perbedaan ini berawal dari perbedaan cara pandang atau cara menilai sesuatu.

 

Mendengarkan dan mengarahkan secara intensif bisa menjadi alternatif dan jalan tengahnya. Dalam hubungannya dengan berpesantren, proses mendengarkan dan mengarahkan ini hampir sama dengan proses menggali kemauan anak, yaitu sebagai referensi tambahan bagi orang tua untuk bisa menjembatani apa yang diinginkan anak dengan pesantren.

 

N – Niat lurus ngga ikut-ikutan

 

Point ini menjadi modal awal orang tua ketika berniat mempercayakan buah hati tercinta kepada pesantren. Niat memesantrenkan anak meski benar-benar clear bagi orang tua, karena dinamika pesantren yang merupakan miniatur kehidupan bermasyarakat yang sebenarnya menjadikan kehidupan pesantren sangat keluhable. Banyak hal yang akan dikeluhkan oleh anak-anak utamanya jika motivasi berpesantrennya hanya karena menuruti kemauan orang tua atau sekedar ikut-ikutan temannya. Niat orang tua menjadi kunci jika sewaktu-waktu fase ini akan terjada selama proses berpesantren.

 

Meskipun anak terlahir dengan takdir dan garis hidupnya masing-masing, orang tua tetaplah menjadi penyumbang besar dalam keterlaksanaan takdir tersebut. Planing masa depan anak versi orang tua hendaklah dimiliki oleh setiap keluarga, bukan tentang profesi yang nanti digeluti, atau dengan siapa anak-anak berumah tangga nanti, tapi lebih kepada hal-hal yang bersifat prinsip.

 

Bagaimana menghormati orang tua, bagaimana mengahargai orang lain, skill wajib apa yang harus dimiliki, bagaimana merespon masalah yang ada dan hal lain yang akan menjadi senjata dalam mengarungi kehidupan serta skill basic lainnya.

 

Ko – Komitmen

 

Hal ini juga berkaitan erat dengan niat orang tua, jika diawal orang tua telah berniat untuk memesantrenkan anak, maka orang tua juga mesti memiliki keteguhan untuk memegang komitmen ini. Sehingga nanti ketika anak-anak merengek minta pindah pesantren karena satu hal ataupun yang lainnya, orang tua bisa bersikap tegas, sehingga sang anak akan belajar untuk menghormati apa yang  telah diputuskan oleh orangtuanya.

 

Ko- kondisioning

 

Kondisioning dalam hal ini adalah pengkondisian anak dengan hal-hal yang berhubungan dengan pesantren, tujuannya anak-anak terbiasa dengan istilah pesantren, sehingga siap jika waktunya tiba untuk berangkat ke pesantren. Setidaknya, sependek yang saya tahu pengkondisian bisa dilakukan dengan dua hal, yaitu melaui kunjungan dan juga melalui obrolan.

 

Sebagaimana dulu yang dilakukan orang tua kami, setiap moment lebaran kami anak-anaknya diajak lebaran sowan kepada para kyai. Dalam kesempatan ini kami tidak hanya diajak mendengarkan nasehat kyai, tapi juga blusukan melihat kamar santri, dapur, masjid, sekolah hingga kamar mandi. Terkadang kami juga berkesempatan langsung ngobrol dengan mba santri yang tidak pulang.

 

Karena kejadian ini berulang, meskipun dengan lokasi pesantren yang berbeda, akhirnya kami terbiasa, tidak hanya dengan istilah-istilah pesantren namun juga nama-nama pesantren di sekitar daerah  kami tinggal.

 

Kondisioning berikutnya selain kunjungan bisa juga dengan obrolan. Entah fiktif atau fakta, dan dari mana sumbernya, orangtua kami selalu membawa tema-tema pesantren dalam beberapa obrolan tertentu. Misalkan ketika sedang mengaji dan belajar, sedang memasak hingga sedang cuci piring dihubungkan dengan kehidupan pesantren. Seperti “wah, udah cocok nih jadi santri” atau “semoga nanti bisa belajar di pesantren ya” atau “nanti kalau di pesantren ada praktek memasak ngga ya” dan obrolan santai lainnya.  Sampai akhirnya ketika lulus SD dan kami harus melanjutkan ke jenjang selanjutnya, kami dengan suka cita menyambut berita bahwa kami akan berpesantren.

 

“Gamis N Koko” ini hanyalah bagian dari ikhtiar untuk bisa mengkondisikan ananda siap berpesantren. Dan karena ikhtiar ini adalah metode maka tidak ada yang paling benar, yang ada adalah yang paling sesuai. Yang sesuai dengan kasus orang tua lain bisa jadi tidak sesuai dengan kasus kita begitupun sebaliknya. Sebagai orang tua tentunya kita yang lebih faham bagaimana menyiapkan anak-anak kita untuk siap berpesantren.

 

Alloh berkahi kita semuanya, segalanya, selamanya. Amiin

 

Jagat `Arsy, 14 Februari 2021

 

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: