fbpx
Home Good Story Desain Cita-cita; ikhtiar melahirkan generasi yang soleh, sehat, sukses dan kaya raya.
Desain Cita-cita; ikhtiar melahirkan generasi yang soleh, sehat, sukses dan kaya raya.

Desain Cita-cita; ikhtiar melahirkan generasi yang soleh, sehat, sukses dan kaya raya.

0
0

Miss. Umami

 

Selama lima tahun mendampingi para calon alumni ada satu perasaan saya yang agak gimana gitu. Meskipun positif, tapi saya ngerasa ada sedikit yang agak kurang sreg. Yaitu ketika para santri kelas 12 sedang sibuk mengikuti seleksi masuk universitas. Sebenarnya cerita rasa ini bukan tanpa alasan, tapi justru karena alasan ini kuat akhirnya selalu terkenang, dan setelah ditimbang-timbang perlu untuk saya share, semoga ada insight positif dari cerita ini.

Umumnya, kelas 12 atau kelas 3 SMA siswa memilih kampus “keren” dalam versi fikiran mereka, tentu saja dilengkapi dengan analisa jurusan yang juga mereka rasa “keren” dan sesuai dengan kehendak hati mereka. Bahkan ada yang rela mengambil jurusan apa saja yang penting bisa tembus seleksi dan menjadi bagian dari almamater kampus yang diidolakannya. Pada level ini mereka bagaikan seorang pemuja yang terkena “guna-guna”. Segala masukan dan analisa dikesampingkan dan tetap gigih berjuang untuk bisa lolos seleksi di kampus harapan.

Dalam kasus yang lainnya yang terkena guna-guna adalah orang tua. Tanpa melihat bakat, kemampuan dan kecenderungan anak, orang tua terobsesi dengan salah satu jurusan tertentu pada universitas tertentu atau yang sejenis dengan itu. Tidak akan menjadi problem jika anak memiliki kemampuan berprsoses dan berkembang sesuai dengan harapan orang tua tersebut, namun akan sangat menjadi problem jika anak memilih jurusan hanya dengan misi “menyenangkan” orang tua, dan setelah kuliah dia baru akan memasuki tahapan memenuhi apa yang menjadi kemauannya.

Alhamdulillahnya banyak juga orang tua yang tidak berkeberatan dengan studi lanjutan yang dipilih oleh sang anak dan memberikan kebebasan penuh. Silahkan pilih jurusan yang dimau, orang  tua akan menyediakan  fasilitas dan segala hal yang menjadi kebutuhannya. Pada level ini bukan keadaan telah aman sepenuhnya, idealnya orang tua dan anak berkomitmen untuk beberapa hal dasar seperti akan menyelesaikan masa belajar berapa lama, atau sembari belajar di universitas akan berlatih memiliki sumber pemasukan yang mandiri, atau prasyarat lainnya yang membuat anak ingat dengan apa yang menjadi tujuan utamanya.

Belum lagi cerita keterbatasan akses, biaya maupun fasilitas pendidikan, sehingga anak dituntut untuk mandiri jika ingin memiliki masa depan yang cemerlang. Disaat beberapa anak meributkan jurusan yang disukai, beberapa anak lain memeras otak bagaimana menemukan program beasiswa dan program subsidi lainnya. Disaat beberapa anak bersitegang karena pilihan yang berbeda dengan orang tuanya, ada anak-anak yang tidak punya pilihan kecuali bertanggung jawab atas apa yang menjadi mimpi dan cita-citanya.

Beberapa case diatas adalah contoh kecil dinamika siswa dalam mewujudkan apa yang menjadi cita-citanya. Entah cita-cita itu muncul karena kecenderungannya sendiri, karena bayangan ideal yang dimimpikan, karena terinspirasi dari orang lain, atau sebenaranya cita-cita itu adalah jawaban dari do`a dan jawaban atas apa yang menjadi harapan orang tua. Namun satu pertanyaan dasar, apakah orang tua masih relevan ikut serta dalam  harapan dan cita-cita anaknya.

Menurut saya secara pribadi, orang tua amat sangat berhak untuk menentukan masa depan anaknya. Karena selain anak merupakan amanah orang tua yang wajib dipertanggungjawabkan di akhirat kelak, anak adalah investasi sekaligus pewujud mimpi dan harapan orang tua. Hanya saja hal ini seolah-olah menjadi problem dan merampas hak anak untuk menentukan pilihan. Hal ini tidak salah, apalagi jika orang tua menyampaikan apa yang menjadi keinginannya ketika anak telah memiliki pilihan dan kecenderungan yang ternyata berbeda dengan pilihan orang tua.

Namun hal diatas akan berbeda ceritanya jika orang tua menyampaikan sedari awal, bahkan mendesain segala sesuatunya, sehingga anak sudah sangat dekat, akrab dan terkondisikan dengan apa yang menjadi cita-cita orang tuanya. Dan hal ini bisa dimulai sedini mungkin, bahkan sejak anak dalam kandungan. Inilah yang membuat kenapa tanggung jawab orang tua menjadi sedemikian besar. Namun hal penting yang menurut saya perlu digaris bawahi adalah, bahwa masa depan anak tidak hanya terbatas pada profesi, perkerjaan atau bagaimana bisa menghasilkan uang. Masa depan ini tentulah mencakup hal-hal yang bersifat tidak hanya skill tapi juga attitude.

 

 

Orang tua sebagai arsitek peradaban sekaligus desainer masa depan anak-anak, sewajarnya memiliki skill khusus yang menunjang keberhasilan peran dalam hal ini. Dan tentu saja skill ini tidak hanya skill dalam pengasuhan namun juga perencaan kehidupan. Beruntung sekali saat ini banyak sekali coach dan juga konsultan yang menyedikan ruang untuk para orang tua bisa bekerjsama menyusun masa depan anak. Namun menurut saya pribadi, secara sederhana ada lima hal aspek yang  perlu menjadi perhatian utama. Pertama aspek profesional, kedua aspek finansial, ketiga aspek personal skill, keempat aspek Bakat minat dan kelima aspek religiusitas yang  secara lebih mudah diingat dengan ProFiPerBaRel atau untuk memudahkan ingat saja profit minyak dalam satuan barel.

Pertama aspek profesional. Aspek ini berkaitan dengan skill anak yang berhubungan dengan karir atau profesi tertentu. Sebelum masuk masa “bekerja”, profesional mencakup hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban utamanya dalam bidang pendidikan. Kemampuan anak menyelesaikan tantangan selama masa belajar di lembaga formal maupun non formal termasuk dalam aspek ini.

Jika orang tua telah memiliki cita-cita spesifik untuk profesi masa depan anak, skill-skill penunjang yang bersifat praktis sudah mulai dikenalkan. Contohnya jika ada diproyeksikan menjadi chef misalnya, maka sedari TK anak sudah bisa diakrabkan dengan hal-hal yang berhubungan dengan dapur maupun aneka masakan.

Kedua aspek finansial. Aspek finansial secara lebih spesifik adalah melatih anak untuk bisa mandiri dalam hal ekonomi, atau secara sederhana bagaimana melatih anak sehingga memiliki sumber pemasukan sendiri. Hal ini tidak dimaksudkan untuk anak-anak menjadi “matre” ataupun mengejar dunia, namun menanamkan tanggung jawab dalam hal keuangan. Meskipun tabu dan agak “tidak etis” untuk dibahasakan secara verbal, namun semua orang tua memahami bahwa finansial atau uang menjadi salah satu hal yang mempermudah urusan manusia.

Contoh aktivitas yang mengarah kepada kemandirian ekonomi bisa disesuaikan dengan usia perkembangan anak dan juga mengarah pada desain cita-cita yang telah disusun. Sebagai contoh orang tua yang mengharapkan anaknya menjadi guru misalnya, sedari awal bisa dibekali dengan kemampuan menulis untuk kemudian menghasilkan buku yang bisa dikomersilkan, atau melatih skill mengajar sehingga bisa membuka kelas privat mulai SMP untuk anak-anak SD. Aspek finansial bisa juga skill dalam melatih pengelolaan keuanan pribadi.

Ketiga aspek personal skill. Personal skill disini dimaksudkan untuk hal-hal yang sifat soft skill maupun hard skill yang wajib  dimiliki oleh semua orang yang memiliki visi dalam kehidupan. Mulai dari respect, kapan mengucapkan tolong, terima kasih, maaf, kapan saat tersenyum, kapan saat menangis, kemampuan problem solving sampai body language yang disesuaikan dengan keadaan. Sedangkan hard skill berkaitan dengan skill dasar sebagai seorang manusia seperti skill membersihkan diri dan lingkungan, skill memasak dasar agar tidak kelaparan, skill merapihkan barang setelah digunakan hingga skill menguasai bahasa pergaulan,

Dan personal skill ini berlaku untuk profesi apapun, selama masih menjadi manusia. Artinya apapun cita-cita yang telah didesainkan atau bahkan tanpa rekayasa cita-citapun, skill ini harus tetap diajarkan, dibiasakan sehingga tumbuh menjadi melin yang mewujud dalam bentuk sistem reflek, dimanapun,  bagaimanapun dengan siapapun.

Keempat aspek bakat dan minat. Mengetahui bakat dan minat akan memudahkan anak dan juga orang tua mendesign cita-cita yang diidealkannya. Beruntung sekali, zaman ini banyak alat bantu untuk kemudian bisa mengukur bakat dan minat anak, seperti STIFIn dan juga yang lainnya. Dan karena luasnya pembahasan tentang ini tidak cukup jika hanya melalui catatan sederhana ini. Hanya saja orang tua wajib memahami bahwa bakat adalah potensi bawaan lahir anak, sedangkan minat adalah hasil dari pembacaan anak terhadap segala hal yang dilihat, didengar dan juga dirakan.

Karena bakat adalah potensi, maka jika tidak mendapatkan stimulan yang tepat sangat mungkin akan tidak muncul, namun umumnya bakat menjadikan anak seorang fast learner, menimbulkan keinginan untuk berkorban demi melakukan apa yang menjadi kecenderungan dari bakat tersebut.

Apa yang terjadi jika anak berprofesi tidak sesuai dengan bakat alaminya? Sangat mungkin anak akan gagal atau sebaliknya, karena bakat hanya menyumbang 20% sedangkan minat menyumbang 80%. Dengan mengetahui bakat anak, sangat mudah untuk menselaraskan dengan minat, sehingga jika keduanya beriringan anak akan merasa bahagia dengan apa yang dilajaninya.

Kelima, aspek religius. Aspek religius disini dibatasi pada hal-hal yang berhubungan dengan kewajibannya kepada Sang Pencipta termasuk didalamnya perintah yang berhubungan dengan sesama manusia. Secara tehnis aspek religius mencakup hal-hal yang bersifat keagamaan baik yang bersifat pemahaman konsep dan pengetahuan, namun juga kemampuan skill tehnis kegamaan lainnya, seperti kemampuan tahsin, tahfidz, adzan, menjadi imam, memimpin tahlil hingga pengurusan jenazah. Dan hal ini sangat bergantung pada pembiasaan.

Aspek religiusitas memiliki posisi yang kurang lebihsama dengan aspek finansial. Apapun cita-citanya menjalankan perinta Alloh adalah wajib. Apapun profesi impiannya berpuasa, mengeluarkan zakat, menjadi imam sholat adalah hal wajib yang dimiliki. Secara lebih spesifik aspek ini menjadi pengisi sekaligus pagar ketika anak-anak telah berkiprah sesuai dengan profesi yang telah disusunnya.

Dengan memperhatikan kelima hal diatas, orang tua berkesempatan untuk mengarahkan anak-anak sesuai dengan apa yang menjadi visi rumah tangganya, tanpa ada perasaan berdosa telah merampas apa yang menjadi hak anak. Kelima aspek diatas, jika ditanya apakah sudah diuji keberhasilannya, dengan jujur saya sampaikan belum terpakai secara sistematis. Tapi beberapa orang telah menggunakannya meskipun belum semuanya, tidak detail dan hanya pada usia tertentu saja.

Merancang cita-cita sama pentingnya dengan membangun pondasi pada saat kita membuat rumah. Pondasi yang kuat akan menjadi penopang bangunan ketika diterjang badai dan gelombang, pun dengan pondasi kita bisa mengatur akan seberapa tinggi, dan seberapa luas bangunan yang kita rencakanan. Mendeain cita-cita anak adalah ikhtiar orang tua menjalankan amanah Alloh, mendidik keluar dan menjaganya dari api neraka. Selain itu merencanakan cita-cita memudahkan arah proses pendidikan dan pengasuhan orang tua terhadap anak.

Orang tua manapun pasti mengharapkan yang terbaik untuk anaknya. Alloh ridhai semua usaha kita dalam membersamai anak-anak kita, tumbuh dan berkembang menemukan titik terbaik mereka, menjadi generasi  agama, negara dan peradaban dunia yang soleh, sehat, sukses dan kaya raya yang berkomitmen menjadi pengamal, pengaman dan pelestari ajaran para wali Alloh, para pecinta kesucian jiwa.

Alloh berkahi kita semuanya, segalanya, selamanya. Amiiin.

 

Rawa Mekar Jaya, 8 Maret 2021

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: