fbpx
Home Good Story Algoritma Kita dan Sosial Media
Algoritma Kita dan Sosial Media

Algoritma Kita dan Sosial Media

0
0

Algoritma Kita dan Sosial Media
Miss. Umami

Meskipun tidak terlahir sebagai digital native, saya besyukur tertakdir menjadi saksi dinamika Abad 21, berkahnya membuat saya menjadi bagian dari sekian banyak saksi hidup akan zaman ini. Suatu zaman yang memiliki banyak nama dan istilah bergantung siapa yang ingin melabelinya. Zaman dimana setiap orang memiliki peluang untuk menyuarakan apapun, yang negatif maupun yang positif, yang urusan personal maupun komunal, yang bermanfaat ataupun yang tidak bermanfaat melalui sosial media.

Media sosial menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan perkembangan tehnologi yang telah dan terus berkembang. Media sosial ini menjadi media untuk para penggunanya menyampaikan sekaligus menerima apapun dalam waktu yang bersamaan. Bagi yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup, media sosial menjadi sangat menakjubkan dan juga mengagetkan, karena banyak informasi yang mendatangi mereka dengan begitu tiba-tiba, yang baik, yang tidak baik, yang lucu maupun yang serius, yang bikin nangis sampai yang bikin ngakak semua ada. Dan inilah yang akan menjadi cerita hari ini, Rabu 20 Maret 2021.

Setelah posting video pendek tik tok di status wa, saya di chat oleh seorang “Kamu ikutan juga main itu, ngga khawatir?”. Untungnya saya kenal baik beliau, beliau adalah seorang yang kritis, teguh pendirian dan biasanya objektif menilai sesuatu. Meskipun agak heran dengan pertanyaannya, alhamdulillah saya tidak ada sedikitpun rasa tersinggung ataupun sebel, karena saya memaknai pertanyaanya sebagi sebuah proses mengkonfirmasi bukan menghakimi.

Saya merasa wajar dengan tanggapan beliau, ditengah banyaknya berita negatif tentang sosial media. Hanya saya agak sedikit mikir, gimana cara yang tepat mendiskusikan ini dengan beliau, apalagi kalau memikirkan bagaimana respon beliau kalau tahu saya juga tertarik untuk mencoba pod cast dalam waktu dekat karena kebutuhan tugas kelas on line yang mewajibkan laporan jurnal harian menggunakan platform sosial media.

Masih dengan jidat mengkerut saya mikir “kayaknya mesti ketemu deh, biar urusan selesai”, tapi sepertinya ngga mungkin, karena beliau berdomisili jauh dari Jabodetabek, dan kalau menelpon tidak bisa sebentar dan juga tidak bisa dilakukan disela-sela keseharian saya di Pesantren Jagat `Arsy dan juga keseharian beliau nan jauh disana yang juga tidak bisa dianggap biasa saja.

Akhirnya saya memilih diskusi lewat chat wa, kalau beliau masih penasaran pasti nanti akan menghubungi saya. Beginilah enaknya pertemanan dewasa, kami saling tahu harus bersikap bagaimana disaat yang bagaimana.

Antum main tik tok juga?” tanya saya balik, saya langsung kebayang ekspresi wajah beliau karena pertanyaannya saya jawab dengan pertanyaan pula.

Nggak” jawabnya singkat setelah lebih dari 15 menit saya menunggu

Atau belum?” jawab saya kembali masih dengan pertanyaan yang kali ini saya lengkapi dengan emoticon lucu untuk mencairkan suasana hati saya yang sebenarnya tidak nyaman dengan diskusi model begini.

Ntahlah, mungkin” jawab beliau, yang kali ini kurang dari 10 detik setelah chat saya terkirim.

Terus apa yang perlu dikhawatirkan?” kembali saya melayangkan pertanyaan saya saat itu juga.

Selanjutnya HP dengan sarung merah hati yang sedang saya pegang berdering dan diskusi kami menjadi panjang kali lebar dengan dinamika yang hampir mirip sidang skripsi saking seriusnya.

Beliau membeberkan banyaknya sisi buruk yang muncul dari sosial media, utamanya aplikasi tik tok ini, mulai dari analisa pribadi, pendapat tokoh agama, berita yang dilansir media, dan tak ketinggalan beberapa pengalaman yang dialami oleh teman-teman beliau.

Untuk tetap netral, saya bertanya balik emang apa yang dilihat, dilike, atu di follow oleh teman-teman yang beliau ceritakan. Dan dengan legowo beliau bilang tidak tahu. Beliau hanya bilang banyak konten tidak produkif dan cenderung negatif, seperti pelakor, hubungan sesama jenis, pornografi, tari-tarian yang mengumbar aurat, belum lagi gosip artis yang entah kebenarannya.

Dari cara beliau menyampaikan pandangannya, saya faham kalau ternyata beliau sedang resah dan butuh teman untuk mendiskusikan fenomena sosial yang sebenarnya membuat beliau pusing dan merasa terkhianati hatinya jika tidak berbuat apa-apa.

Dan untuk menyederhanakan suasana, saya megingatkan beliau tentang kisah Buya Hamka dan seseorang yang curcol kepada beliau tentang “pelacur”. Meskipun saya yakin beliau sudah hafal dengan kisah ini, sebagaimana kita semua yang juga sudah sering kali mendengarnya.

Jujur saya mendapatkan cerita ini bukan dari sumber asli, jadi saya mensarikan dari beberapa versi bacaan yang saya dapatkan dari hasil berselancar di google.

Diceritakan, pada suatu hari ada seorang laki-laki yang tergesa-gesa dan gemas menemui Buya Hamka dan berkata “Saya tidak menyangka Buya, di Makkah ada pelacur, bahkan berjilbab, kok bisa ya Buya?”.

Oh ya?” dengan sangat bijaksana beliau menjawab “Saya ke Los Angeles dan New York, dan ternyata disana tidak ada pelacur” imbuh beliau.

Mana mungkin Buya, di Mekkah aja ada pasti di Amerika lebih banyak lagi!” respon laki-laki tersebut dengan tidak percaya.

Kita memang hanya dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari” jawab Buya dengan senyum teduh beliau.

Meski pergi ke Mekkah, jika yang diburu oleh hati kita adalah hal-hal yang buruk, setan dari golongan jin dan manusia pasti memiliki cara untuk membantu kita mendapatkannya. Dan meski kita pergi Amerika jika yang dicari adalah kebajikan, maka segala kejelekan akan enggan keluar dan bersembunyi. Sebab jika hati senatiasa berniat baik Alloh akan pertemukan kita dengan hal yang baik, orang yang baik, tempat yang baik atau peluang untuk kita berbuat baik”.

Dan hal ini mengingatkan saya tentang law of attarction yang juga dikenal dengan hukum ketertarikan. Yang kita temui pada dasarnya adalah bagian dari apa yang otak kita fikirkan, oleh karena inilah kenapa berfikir positif wajib menjadi skill di abad ini.

Secara sederhana, cara kerja law of attarction ini, dan juga kisah Buya Hamka diatas menurut saya memiliki kesamaan dengan algoritma sosial media pada umumnya. Dimana yang sering kita tonton, kita like dan kita follow itulah yang akan menyapa kita lewat beranda dan akhirnya sering kita lihat.

Saya harus akui dengan jujur kalau saya tidak terlalu faham dengan hal ini, karena algoritma masing-masing sosial media memiliki spesifikaisnya masing-masing. Tapi sependek pengalaman saya bersosial media begitulah cara kerjanya, yang sering kita like, komen, follow sekitar tema itulah yang akan mondar-mandir di beranda kita.

Sependek saya mengingat, hampir tidak ada berita pelakor atau gosip artis yang mampir di FB saya, kalaupun ada berita artis yang lewat pasti ada hubungannya dengan baju, gamis dan pernak-pernik muslimah lainnya. Justru kebanyakan yang muncul adalah informasi tentang gamis dan perbajuan muslimah lainnya. Hal ini tidak heran karena postingan saya banyak didominasi oleh postingan gamis dan mukena premium koleksi @hijab_umima.

Tapi berbeda dengan ig, meskipun saya memiliki akun ig baik yang personal maupun yang bisnis, dalam ber-ig saya tidak seaktif FB, alhasil tidak ada berita spesifik tentang hal-hal tertentu yang menyambangi fitur searching pada akun ig saya.

Dan untuk tik tok, karena saya tidak meng-klik preferensi di awal, akhirnya yang muncul menjadi sangat random dan beragam. Baru setelah saya follow akun Pesantren Jagat `Arsy dan salah satu akun lembaga kursus bahasa Inggris, juga saya like dan share beberapa konten parenting, akhirnya konten inilah yang sering menyambangi page saya.

Sekali lagi saya menegaskan kalau saya bukan pakar sosial media dan bukan orang yang ahli tentang hal tersebut, tapi saya keberatan jika sosial media hanya berisi hal-hal yang negatif. Sependek saya bersosial media banyak konten positif, menginspirasi dan juga hal-hal baru yang saya dapatkan.

Rasanya tidak berlebihan jika saya menilai bahwa negatif atau positifnya sosial media itu tergantung pada jempol dan jari-jari kita serta keberanian kita untuk memutuskan untuk memilih klik kanan untuk hal-hal yang positif atau sebaliknya, memilih klik kiri untuk hal-hal yang tidak produktif.

Untuk menjaga diri dalam bersosial media, biasanya saya mengingat sosok pak FoLiSi KriMan. Ingat saja kalau melakukan hal yang negatif kita akan ditangkap oleh pak polisi kriman ini. Sebenarmya ini adalah singkatan dari beberapa tips yang saya gunakan sebagi pakem pribadi dalam bersosial media, yaitu pastikan yang diFollow dan diLike adalah poSitif, jadi pengguna yang Kritis dan posting konten yang Manfaat untuk diri saya maupun untuk warga sosial media lainnya.

Diatas adalah cara saya, yang mungkin berbeda dengan cara yang lainnya, dan itu tidak mengapa. Karena pada dasarnya tidak ada metode atau strategi yang paling baik, tapi yang ada adalah metode dan strategi yang paling tepat. Satu yang perlu diingat oleh kita semua, bahwa apa yang kita lihat, kita like, kita follow akan ada pertanggung jawabannya. Bagaimana cara menghalaunya silahkan disesuaikan dengan adat dan kebiasaan masing-masing

Setelah hampir 60 menit, obrolan via telp selesai dan kami kembali ke realita masing-masing dengan hati dan fikiran yang lebih tenang serta lebih lapang. Seandainya kami berdekatan, pasti diskusi akan lebih menyenangkan dan lebih mengesankan, apalagi ditemani kopi dan kudapan kesukaan. Wallohu a`lam bishowab.

Do`a saya, Alloh karunia kita ketajaman dalam menilai dan kemampuan memutuskan ditengah perkembangan yang terus berjalan. Alloh berkahi kita, semuanya, segalanya, selamanya. Amiin

Rawa Mekar Jaya, 20 Maret 2021

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: